Jumat, 08 Juli 2022

Philophobia Atau Trauma Jatuh Cinta Pada Seorang Wanita

philophobia adalah

Philophobia adalah rasa trauma jatuh cinta yang terjadi berkepanjangan, sehingga menjadi sebuah phobia dan meningkat jadi sebuah kondisi philophobia.

Hal ini biasanya disebabkan oleh rasa sakit mendalam akibat dari kegagalan dalam menjalin sebuah hubungan percintaan, dan kali ini Woman Daily akan berbagi informasi tentang trauma yang tidak biasa terjadi tersebut.

Philophobia Adalah?


Philophobia berasal dari kata Philos (Yunani) yang berarti cinta, dan Fobos yang berarti ketakutan. 
Fobia atau phobia bukanlah sebuah ketakutan biasa, namun ketakutan yang ekstrem sehingga terlihat tidak biasa.

Fobia juga merupakan sebuah jenis gangguan kecemasan, yang mana pasien tidak akan menunjukan gejalanya, sampai ketika diobati. 

Karenanya, Philophobia adalah sebuah gangguan kecemasan akan cinta, atau bisa dikatakan takut maupun trauma jatuh cinta.


Ciri-Ciri Philophobia Pada Wanita


Jatuh cinta, sesungguhnya merupakan sebuah hal yang indah, yang menyenangkan dan disukai oleh semua orang, baik lelaki maupun wanita.

Namun tidak demikian dengan orang-orang yang memiliki philophobia.
Bagi mereka, jatuh cinta adalah gambaran dari hal-hal yang membuatnya jadi cemas bahkan gemetaran.

Dan jika hal ini terus dibiarkan, dalam tingkat yang awal, philophobia akan menunjukan ciri-ciri berikut ketika akan jatuh cinta.

philophobia atau trauma jatuh cinta
Source: mensxp.com

1. Merasa insecure

Jika orang biasanya akan bersemangat dan bahagia, ketika jatuh cinta, terlebih saling jatuh cinta.
Maka tidak demikian dengan para pengidap philophobia.

Bagi mereka, jatuh cinta hanya membuatnya berpikir bahwa dirinya tidak pantas untuk itu, minder, atau dengan kata insecure.

Karena hal ini, wanita yang pholiphobia biasanya akan memilih menghindari bahkan menjauhi lelaki yang dicintai atau jatuh cinta kepadanya.


2. Merasa bersalah

Alih-alih bahagia, seroang wanita yang mengidap philophobia malah akan merasa bersalah yang besar, dan lebih lanjut akan merasa bahwa dirinya tak layak untuk siapapun di dunia ini.

Dia merasa minder untuk jatuh cinta, dan merasa bahwa hal itu salah untuk dijalani bahkan dinikmatinya.


3. Merasa ragu dengan komitmen pasangan

Jatuh cinta tidak membuat seorang wanita pengidap philophobia untuk bahagia dan berbunga-bunga, justru dia malah merasa ragu dan bertanya-tanya dengan komitmen pasangannya.

Apakah sang lelaki benar-benar mencintainya? atau hanya sebatas kagum aja.
Hal ini memang wajar jika terjadi, tapi kalau intensitasnya terlalu besar, maka akan mengganggu sebuah hubungan percintaan juga.

Karena apa-apa bawaannya ragu, tidak percaya dengan semua perkataan sang lelaki, apalagi janji-janji manis sang lelaki.


4. Selalu berpikir negatif

Wanita dengan philophobia cenderung mempunyai pikiran negatif dan selalu pesimis ketika ada lelaki yang mendekatinya.

Seolah merasa kalau sang lelaki hanya akan mepermainkan perasaannya, dan hubungan mereka akan kandas dalam waktu yang dekat.

Dan pikiran seperti ini, tidak hanya terjadi sekali dua kali, namun sering terjadi dan tentu saja mengganggu hubungan mereka, karena overthinking dan selalu cemas akan jatuh cinta.

 

5. Selalu Takut Untuk Bersama Orang yang Dicintai

Jatuh cinta, seharusnya membuat banyak wanita ingin selalu dengan lelaki pujaannya tersebut, namun tidak demikian dengan wanita dengan philophobia.

Justru dia akan merasa selalu ketakutan, jika harus bersama orang yang dicintainya, hal itu bisa dipicu oleh pemikirannya yang takut jika sang lelaki akhirnya akan menyakiti perasaannya.


6. Selalu merasa menyesali akan masa lalu

Masa lalu yang kelam memang seringkali membuat kita merasa sakit, sedih bahkan trauma.
Namun, hal itu seharusnya tidaklah menjadi hal yang harus dipikirkan lagi dan lagi.

Ada masa untuk move on dan berdamai dengan masa lalu, namun biasanya seorang wanita philophobia akan kesulitan untuk itu.

Dia hanya akan selalu mengingat dan mengingat, lalu kemudian menyesali masa lalu itu terjadi. Hal ini tentunya akan menjadi masalah, ketika harus menjalani hubungan dengan orang baru.


Penyebab Philophobia Pada Wanita


Begitu traumatisnya seorang wanita dengan philophobia, membuat kita pasti bertanya-tanya, apa sih yang menjadi penyebab, sehingga wanita bisa seterluka itu, dan menjadi trauma jatuh cinta lagi?

Namun, ternyata tak seperti gangguan kecemasan, philophobia ternyata bukan merupakan sebuah ketakutan yang tiba-tiba. Namun ada yang menjadi penyebabnya sehingga terjadi seperti itu.

Dikutip dari Medical News Today, beberapa psikolog mengatakan bahwa ada berbagai alasan yang menjadi penyebab orang mengalami philophobia, di antaranya:


1. Karena adanya trauma atau insiden

philophobia atau trauma jatuh cinta
Source: stock.adobe.com

Pernah berada di sebuah hubungan percintaan dalam waktu yang sangat lama, lalu akhirnya kandas, menjadi salah satu penyebab wanita mengalami philophobia.

Karena masa lalu itu, sang wanita jadi merasa selalu khawatir yang berlebihan akan memulai dan menjalani hubungan baru.

Takut terjadi pengalaman yang sama, yaitu gagal lagi, khawatir membuat dia terluka lagi dengan dalam.
Semua rasa khawatir dan berubah jadi trauma tersebut, membuat sang wanita philophobia terus menderita mentalnya.


2. Adanya pengalaman dari masa kanak-kanak

Kebanyakan orang sekarang menyebutnya luka batin dari masa kecil.
Adanya pengalaman dari masa kanak-kanak yang kurang mengenakan, misal dengan kurangnya kasih sayang dari orang tua, akan memicu seorang wanita jadi mengalami philophobia.

Pengalaman itu, membuat mereka akan selalu cemas ketika memasuki masa percintaan, karena melihat hubungan orang tuanya yang tidak harmonis, dan kemudian mengakibatkan dia kekurangan kasih sayang, bahkan kehilangan masa kecil yang indah.

Ketakutan seperti ini, akan membuatnya sulit bisa memulai hubungan, karena selalu dibayangi oleh pengalaman masa kecil yang menyakitkan.


3. Karena faktor genetika

Meskipun hal ini sangat jarang terjadi, tapi beberapa orang yang mengalami ketakutan-ketakutan berlebihan dalam philophobia, juga bisa terjadi karena faktor keturunan atau genetika dari orang tua, saudara kandung, maupun kakek neneknya.

Beberapa ahli mengatakan bahwa, beberapa orang yang selalu merasa cemas atau phobia, cenderung menularkan fobia tersebut dalam lingkungannya, tentu saja termasuk dalam keluarga. 


Cara Mengatasi Philophobia Pada Wanita


Lalu, bagaimana mengatasi philophobia yang sekilas biasa, tapi sangat mengganggu ketenangan hidup seorang wanita yang mengidapnya ini?

Terlebih, saat gejalanya memburuk, dan tidak segera dikelola dengan baik, maka philophobia akan menyebabkan perasaan yang sangat tidak menyenangkan. 

Untuk menangani fobia akan cinta seperti ini, sebanrnya sangat tergantung pada hipofisis dari perasaan cinta seseorang. 

Dan beberapa cara untuk mengelola dan mengatasi ketakutan akan kekhawatiran jatuh cinta seperti ini, agar bisa mengatasi philophobia yang merugikan mental diri, caranya seperti ini:


1. Dengan terapi

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi philophobia pada wanita adalah, dengan cara melakukan terapi.

Terapi, khususnya bentuk terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT), akan sangat bermanfaat dalam mengatasi ketakutan yang dialami oleh wanita penderita philophobia ini. 

CBT dapat menunjukkan hasil yang efektif, untuk berbagai penyakit mental, termasuk penyakit kecemasan. CBTS juga sangat berkaitan dengan meningkatkan kualitas hidup pada pasien dengan penyakit kecemasan. 

Adapun CBTS ini, mencakup kepercayaan dan perubahan pemikiran dan respons negatif terhadap sumber fobia, dalam hal ini jatuh cinta.

Dan untuk itu, adalah sebuah hal penting untuk lebih mengenal wanita dengan ketakutan dan pengalaman dengan sumber ketakutan dan rasa sakit mereka. 

Terapi ini biasanya dimulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan, agar bisa mengenali sumber ketakutan si wanita philophobia, dan dari jawabannya, dapat dibuat sebuah tujuan kecil untuk perkembangan hubungan.

Hal-hal seperti bertemu dengan lawan jenis, menyapa, dan berbincang atau ngobrol yang lebih intim. Lalu kemudian dapat dikembangkan perlahan, sehingga dapat mulai menghilangkan rasa takut untuk jatuh cinta.


2. Pengobatan

Pengobatan biasanya dilakukan, jika memang gejala philophobia yang dirasakan sudah sampai di tahap mengganggu kinerja fisik dan aktifitas hariannya.

Terlebih jika tercampur dengan diagnosis masalah kesehatan mental lainnya, maka meminta diberikan sebuah resep obat-obatan adalah pilihan yang tepat.

Dokter atau yang berwewenang biasanya akan meresepkan antidepresan dan anti-ACHECASES, di mana obat-obatan tersebut bsia digunakan dalam kombinasi dengan terapi perilaku kognitif.


3. Mengubah gaya hidup lebih sehat

Cara lain mengatasi masalah mental seperti philophobia adalah, dengan mengubah gaya hidup kita menjadi lebih sehat, dengan melalukan beberapa aktifitas ffisik yang menyenangkan, seperti olahraga.
Bisa juga dengan tehnik relaksasi yang membuat penderita jadi lebih tenang.

Ketenangan, akan membantu wanita philophobia untuk bisa melawan dan menghadapi semua kecemasannya dan mengubahnya menjadi sebuah kekuatan dalam mempercayai sebuah hubungan.


Penutup


Pada dasarnya, semua wanita menyukai perasaan jatuh cinta.
Bahkan, jatuh cinta seringnya menjadi obat dari semua kekecewaan dan kesedihan dari kegagalan yang mungkin terjadi di masa lalu.

Namun, jika yang dirasakan justru berbeda, jatuh cinta malah membuat kita merasa tidak nyaman, merasa seolah hal itu tak pantas terjadi pada kita, lalu menghindarinya dengan gejala yang sangat tidak menyenangkan.

Maka harus diwaspadai, kalau kecemasan kita akan kegagalan cinta, telah berkembang menjadi philophobia.

Maka, hadapilah semua itu, dengan melakukan hal-hal yang bisa mengatasi kecemasan berlebihan dari seorang wanita yang philophobia.
Karena, jatuh cinta sejatinya adalah anugerah, yang membawa kebahagiaan. 


Sidoarjo, 09 Juli 2022

Sumber:
  • https://www.gramedia.com/best-seller/philophobia/ diakses 8 Juli 2022
  • https://www.alodokter.com/Ini-Cara-Menangani-philophobia-atau-takut-jatuh-cinta diakses 8 Julis 2022
Gambar: Canva dan berbagai sumber
Previous Post
Next Post

0 comments: