Selasa, 28 Juni 2022

Apakah Wanita Harus Bisa Masak?

Wanita Harus Bisa Masak

Apakah wanita harus bisa masak?
Kalau bagi saya, iya, harus.
Tapi jangan lupa, itu menurut saya ya, berdasarkan pengalaman hidup saya yang ingin dibagikan melalui Woman Daily kali ini, tentu saja tidak mewakili 100% alias semua wanita di dunia ini.

Namun setidaknya, kisah hidup saya, sesungguhnya juga mirip dengan kisah hidup banyak wanita di dunia ini, yang ujung-ujungnya sampai pada kesimpulan, bahwa wanita harus bisa masak.

Kesimpulan wanita harus bisa masak, meskipun nggak harus pandai masak, saya dapatkan, setelah saya menikah dan punya anak, yang mewajibkan saya harus bisa masak.


Cerita Wanita yang Tidak Bisa Masak


Sejujurnya, saya sudah bisa masak sejak remaja.
Tapi, nggak bisa diharapkan benar-benar dalam memasak, karena entah mengapa saya seperti kurang punya keahlian dalam memasak apapun, selain masak air.

Mungkin karena nggak selalu dan terus menerus memasak kali ya, sejak kecil mama yang masak, kalaupun saya bantu, iya.
Tapi nggak konsisten bantunya.

Alhasil, saya baru bisa masak nasi tanpa zonk, setelah punya anak, hahaha.

Saya masih ingat, ketika SD, sesekali saya diminta tolong mama untuk masak nasi, dan hasilnya kalau nasi enggak matang, ya nasinya kelembekan, hahaha.
Padahal, saya udah merasa mengukur air buat masak nasi itu, sesuai ajaran mama.

Masak laukpun sama, entah mengapa tangan saya selalu banyak zonk-nya ketika masak, ketimbang enaknya. Tumis sayur, kalau enggak matang separuh, ya lunak kek bubur, hahaha.
Masak ikan, padahal masaknya sederhana banget, seringnya sih jadi keasinan.
Mungkin karena sering zonk, mama jadi malas mengharapkan saya yang masak.

Sampai saya kuliah dan jauh dari ortu, ngekos dengan uang saku bulanan yang pas-pasan, bahkan banyak nggak pasnya, hahaha.

Sesekali, eh bahkan sering kali saya harus masak, biar lebih irit, setidaknya masak nasi.
Jadi bisa beli lauk yang pastinya jauh lebih irit jika dibandingkan harus membeli makanan lengkap di luar.

Masak nasinya pun masih ala kadarnya, karena belum punya magic jar atau sejenisnya, saya meniru beberapa teman kos yang memasak nasi dengan cara di tim (beras yang sudah dicuci dan dikasih air, ditaruh di sebuah wadah tahan panas, lalu dimasukan ke dalam panci kukusan).
Kenyataannya, beberapa kali zonk meski seringnya juga berhasil. 

Waktu terus berlalu, akhirnya saya menikah dan memilih hidup mandiri, yang awalnya ngekos di tempat kos suami istri.

Mulailah saya rajin masak, meski masak nasi masih juga zonk, sesekali.
Mulai explore banyak lauk, meski awalnya saya bingung membedakan mana temu kunci, mana kencur.
Pernah juga masak ayam, niatnya dikasih jahe, eh ternyata kencur, hahaha.

Sampai akhirnya kami ngontrak, dan suami jadi sering pulang karena kontrakan kami dekat terminal bus (waktu itu suami kerja di luar kota).

Suami yang memang suka masak, begitu rajin memasak, dan ternyata hal ini malah bikin kemampuan memasak saya jadi semakin mundur, hahaha.

Puncaknya, ketika saya mulai lebih familier dalam hal memasak, yaitu ketika saya menjadi ibu rumah tangga full, dan ikut ke tempat kerja suami di Jombang, Jatim.

Ditambah udah punya anak, dan anaknya sering banget sakit-sakitan, alhasil bikin saya harus banget bisa masak.

Mulailah kemampuan masak saya meningkat, biar kata belum bisa menandingi seorang chef, hehehe.
Tapi setidaknya, itu puncak dari move on-nya saya dari kebanyakan zonk dalam memasak.

Masak nasi, udah bisa dibilang nggak pernah lagi zonk, alias saya udah punya banyak trik untuk mengakali zonk dalam masak nasi.

Masak laukpun demikian, bahkan saya jadi bisa bikin kue, dan puncaknya malah jualan frozen brownies, yang awal pemasarannya, semua teman saya nggak percaya kalau itu buatan saya, hahaha.

Sejak saat itulah, sampai saat ini, saya jadi bisa masak, dan masakan saya selalu jadi masakan penggugah selera buat anak-anak, di mana seenak apapun makanan di luar, anak-anak seringnya hanya lebih lahap ketika memakan masakan saya, meski masakan saya amat sangat sederhana, karena saya nggak suka kebanyakan bumbu (alias malas ribet, hahaha).


Alasan Mengapa Wanita Harus Bisa Masak 


Mengapa sih wanita harus bisa masak?
Karena hidup ini ibarat roda, selalu berputar, nggak melulu kehidupan kita bisa berada di atas dan mengandalkan uang atau orang lain buat masak.

Mengapa wanita harus bisa masak

Ada masa, di mana mau nggak mau, kita wajib bisa masak, biar lebih irit.
Karena sepengalaman saya, mau dibuat gimana pun, masak adalah alternatif mengatur keuangan yang jauh lebih irit, ketimbang beli.

Baik untuk jangka pendek, maupun jangka panjang.
Di mana, masak sendiri bikin kita yakin tentang kehigienisan masakan, dan juga lebih sehat.

Saya juga udah punya pengalaman, baik diri sendiri maupun anak yang sakit, bahkan anak di opname di rumah sakit, salah satu penyebabnya ya karena makannya beli di luar mulu.

Pengalaman hidup saya mengantarkan saya pada kesimpulan, bahwa wanita wajib bisa masak, karena banyak banget wanita yang mengalami, terpaksa jadi ibu rumah tangga ketika sudah menikah dan punya anak.

Ketika jadi ibu rumah tangga, otomatis pemasukan keuangan jadi berkurang, tumpuan ekonomi keluarga hanya berasal di satu orang saja, suami.

Dan lagi-lagi, seperti yang saya katakan, hidup ini adalah roda kehidupan, sangat bisa berputar kapanpun, ada masa di mana keuangan keluarga diuji, dan saat itulah, mau nggak mau kita harus berhemat, dan mau nggak mau salah satu cara hemat yang paling jitu ya, masak sendiri, terlebih kalau udah punya anak, dan anak masih kecil.

Dalam keadaan seperti itu, kemampuan wanita dalam memasak amat sangat dibutuhkan.
Mengapa harus wanita? mengapa nggak lelaki atau pria aja?

Ya karena, ketika punya anak, yang paling memungkinkan untuk bisa keluar cari uang ya suami, karena kebanyakan istri jauh lebih dibutuhkan anak, ketimbang suami.

Dan mau nggak mau, istri atau wanitalah yang lebih banyak di rumah mengurus anak, dan tentu saja harus bisa masak.

Hal lain yang bikin wanita harus bisa masak adalah, naluri keibuan.
Ketika sudah punya anak, banyak wanita yang kurang percaya pada pihak lain dalam mengurus makanan anaknya, akhirnya harus masak sendiri.


Kesimpulan


Memasak adalah sebuah life skill yang wajib dikuasai siapa pun, bukan hanya wanita, tapi juga pria.
Karena semua manusia hidup ya butuh makan, otomatis ya masak jadi sebuah kegiatan yang sangat urgent di setiap masa.

Di zaman sekarang, banyak para ibu milenials yang mengajarkan anak-anak lelakinya untuk bisa masak. Alasannya, agar anak lelaki tumbuh jadi pribadi yang sadar, kalau pekerjaan di rumah bukan hanya tugas dan tanggung jawab istri, tapi kewajiban bersama.

Lalu, kalau anak lelaki saja diharuskan bisa kerjaan rumah, masa iya anak perempuan malah dibiarkan saja nggak bisa ngerjain pekerjaan rumah?

Padahal kita bisa melihat di masyarakat, bahwa banyak sekali wanita karir, yang karir dan kinerjanya cemerlang, akhirnya mundur dan memilih jadi ibu rumah tangga saja.

Sementara, sangat jarang terjadi, seorang lelaki memutuskan jadi bapak rumah tangga, meskipun mungkin juga ada, tapi jarang banget.

Karenanya, menurut saya, memasak adalah sebuah life skill wajib buat wanita.
Karena mau seperti apapun cita-cita anak perempuan, pada akhirnya perempuan juga butuh makan kan?

Demikianlah, opini saya.
Kalau kalian, gimana nih ladies?

Sumber: opini pribadi
Gambar: Canva edit by Rey
Previous Post
Next Post

0 comments: